Pelatihan Penguatan Manajemen Lembaga CI-BI

29 Sep

Untuk meningkatkan layanan Pendidikan bagi siswa yang mempunyai kecerdasan istimewa dan bakat istimewa, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah melalui Balai Pengembangan Pendidikan Khusus menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Manajemen Lembaga Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CIBI). Peserta Pelatihan sejumlah 50 orang dari sekolah penyelenggara program akselerasi.

Materi:

1. Pengembangan Silabus

2. Pengembangan KTSP & Kebutuhan Belajar Siswa CIBI

3. PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PESERTA DIDIK CERDAS ISTIMEWA AKSELERASI (sugimin)

4. PENGEMBANGAN RPP

5. PROSES BELAJAR MENGAJAR

6. SISTEM REKRUITMEN PENERIMAAN SISWA DAN BK CIBI (sugiarto)

Pelatihan Keterampilan Teknis Guru Pembimbing Khusus (GPK)

16 Sep

Balai Pengembangan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah mengadakan Pelatihan Keterampilan Teknis Guru Pembimbing Khusus (GPK) tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 4-6 September, 12-14 September dan 18-20 September 2011 di Semarang. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus disekolah inklusi.

Materi:
1. audio & abm (Sulisnuryati)

2. Bintek Pembel ATNdi Sek Inklusi Diksus (edit)

3. Gangguan pendengaran sejak lahir (sulisnuryati)

4. PEMBELAJARAN SISWA AUTIS PADA KELAS INKLUSI

5. Konsep & TUGAS GPK

6. KOMPETENSI TERAPUTIK DASAR

NUSAKAMBANGAN YANG INDAH

23 Agu

NUSAKAMBANGAN YANG INDAH
KARYA : DEBY SRI AGUSTIA
Siswa SDLBN Gumilir Cilacap

Denturan ombak biru berlagu
Sepoi angina membelai rambutku
Butiran pasir putih menggelitik kakiku
Oh, Pantai permisan
Menarik hati wisatawan

Nun jauh disana
Gua ratu indah memukau
Stalagtit dan stalagmite penuh cahaya kemilau
“dung” kupukul batu unik
Terdengar irama musik menarik

Dicagar alam nan luas
Tumbuh pohon plalar yang langka di dunia
Pohon bakau yang rindang
Tempat hidup ikan dan udang
Sumber penghidupan para nelayan

Pesona legenda dimasa lampau
Legenda bunga wijayakusuma
Bunga indah penuh pesona
Idaman para satria
Syarat menjadi raja tanah jawa

Nusakambangan pulau yang garang
Tempat binaan narapidana
Nusakambangan pulau melegenda
Tempat wisata menarik di dunia
Nusakambangan yang indah
Disanalah aku dilahirkan

Tuhan
Terimalah atas karunia-Mu
Kau beri aku kampung halaman yang indah

Tuhan
Aku senang melihat keindahannya
Aku nyaman merasakan desir anginnya
Nan lembut
Aku bahagia mendengar denturan ombaknya
Nan mendayu
Dan aku bersyukur lahir disana

Tuhan
Kumohon pada-MU jagalah nusakambangan
Agar tetap indah menawan
Amin

Pelatihan Penguatan Lembaga Manajemen Inklusi

5 Jul

Guna meningkatkan akses pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus melalui sekolah reguler,  Balai Pengembangan Pendidikan Khusus (BP-DIKSUS) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah mengadakan Pelatihan Penguatan Lembaga Manajemen Inklusi pada tanggal 4 – 6 Juli dan 6 – 8 Juli 2011.  Setelah mengikuti pelatihan ini, diharapkan peserta dapat memahami tentang pembelajaran Anak tunanetra, tunagrahita, tunarunguwicara dan autis, serta memahami tentang diversifikasi kurikulum pendidikan inklusi.

Materi:

1. Bintek Pembel ATN di Sekolah Inklusi

2. FOTO INKLUSI

3. PEMBELAJARAN SISWA AUTIS PADA KELAS INKLUSI

4. SEKOLAH INKLUSI DAN KTSP

5. MODIFIKASI KURIKULUM DAN PENGEMBANGAN SILABUS

TOT Tes Psikologi Siswa SLB

22 Jun

Untuk meningkatkan kualitas layanan terhadapt masyarakat, khususnya kepada Anak-anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sesuai dengan jenis ketunaan, bakat, minat dan potensi siswa, BP-DIKSUS Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan TOT Tes Psikologi Siswa SLB se-Jawa Tengah yang dilaksanakan selama 3 hari, mulai tanggal 22 – 24 Juni 2011, dan diikuti oleh 100 guru SLB. Dengan diadakannya pelatihan ini, diharapkan para guru yang berada di SLB mampu:

1. Mengidentifikasi jenis dan tingkat ketunaan siswa
2. Mengidentifikasi bakat, minat dan potensi siswa
3. Meningkatkan layanan pendidikan bagi anak sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.
4. Memberikan pendampingan kepada siswa untuk mengembangkan bakat, minat dan potensinya,

Pada kesempatan ini penyaji materi berasal dari jajaran Fakultas Psikologi UNDIP Semarang, dengan materi “Tumbuh Kembang Anak”, “Klasifikasi ABK”, “Peran Orangtua Dalam Identifikasi ABK”, “Identifikasi dan Deteksi ABK”, dan “Penyusunan Instrumen dan Praktek Identifikasi ABK”.

Tulisan pendukung (tentang INDIGO): INDIGO (Ciri-ciri dan Definisi)

Materi:

1. Tumbuh Kembang Anak

2. Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus

3. PERAN ORTU dlm MEMBANTU TUMBUH KEMBANG ABK (Ika Febrian Kristiana)

4. Klasifikasi ABK (Ika Febrian Kristiana)

Instrumen Asesmen:

A. Riwayat Anak

B. Ceklist Kesulitan Membaca

C. Ceklist Penilaian Perilaku Anak

D. Daftar Cek Pedicatric Symptom

E. Instrumen Asesmen Bakat dan Minat ABK

F. Persetujuan Orangtua

G. Tes Penempatan Pembelajaran Langsung Matematika

Pelatihan Pengembangan Model Terapi dan Pelatihan Penguatan Lembaga Pendidikan Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa (CIBI)

8 Jun

Balai Pengembangan Pendidikan Khusus (BP DIKSUS) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah mengadakan Pelatihan Pengembangan Model Terapi, pada tanggal 13 s.d 15 Juni 2011, bertempat di Semarang. Pelatihan ini bertujuan antara lain agar:
1. Guru/terapis dapat mengetahui berbagai jenis terapi yang bisa diberikan kepada anak berkebutuhan khusus;
2. Guru/terapis dapat menguasai dan bisa menerapkan berbagai jenis terapi;
3. Guru/terapis mampu memilih jenis terapi yang paling tepat untuk anak berkebutuhan khusus sesuai dengan kebutuhannya.

Pelatihan ini akan diikuti oleh 120 orang Guru SLB se Jawa Tengah, dengan materi mengenal jenis-jenis terapi, terapi Musik, Sensori Integrasi, Aktifitas Daily Living, Applied Behaviour Application dan Terapi Wicara. Adapun Narasumber yang memberikan materi ini berasal dari Fakultas Psikologi UNDIP Semarang, SLB Negeri Semarang, Terapis BP-Diksus Provinsi Jawa Tengah dan Terapis Rumah Sakit Umum Pusat dr. Kariadi Semarang

Materi:

1. TERAPI MUSIK    (Harsono, S.Pd)

2. Mengenal Jenis-jenis Terapi (Drs. Ciptono)

3. Terapi ABA (Costrie Gones W)

4. Aktivitas Sehari-hari (Purwandari Alka)

5. Pengembangan Model Terapi SI (Dodik Sanjaya)

 

Pelatihan CI-BI

Kemudian pada tanggal 16 s.d 17 Juni 2011, BP DIKSUS Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah juga akan menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Lembaga Pendidikan Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa (CIBI).
Pelatihan CIBI ini bertujuan agar peserta mampu:
1. Menyusun rencana memberikan layanan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan;
2. Menyempurnakan program agar sesuai dengan tujuan layanan pendidikan khusus yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan istimewa dan Bakat Istimewa;
3. Mengkoordinasikan dan menyelerasikan segala sumberdaya yang ada disekolah atau luar sekolah untuk meningkatkan efektifitas penyelenggaraan pendidikan khusus.

Pelatihan ini diikuti oleh 100 orang Guru SDLB/SLB se Jawa Tengah, dengan materi :
1. Sistem Rekruitmen Penerimaan Siswa dan Bimbingan Konseling CIBI
2. Kebijakan dan Program CIBI
3. Pengelolaan Proses Pembelajaran CIBI
4. Model Pengelolaan dan Penyelenggaraan Layanan CIBI

Sedangkan narasumber yang akan memberikan materi ini berasal dari:
1. Ka Subdit Kelembagaan & Peserta Didik Direktur Kelembagaan PK-PLK Kemendiknas
2. Dosen FIP UNNES
3. Guru SMAN 3 Semarang

PELATIHAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA

14 Sep

Dalam rangka meningkatkan pemantapan implementasi pendekatan belajar aktif yang menekankan pada pengembangan pendidikan karakter bangsa, kewirausahaan serta ekonomi kreatif yang terintegrasi dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidian (KTSP), Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah melalui Balai Pengembangan Pendidikan Khusus akan menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa bagi guru SLB Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 22 s.d 24 September 2010 di Semarang.

Materi pelatihan:

1.  Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

UNDANGAN PORSENI ABK 2010

26 Agu

Semarang,   24 Agustus 2010

Kepada Yth :

Kepala Dinas Pendidikan

Kabupaten/Kota ……………………….

U.p Kasubdin/Kabid  yang menangani

Pendidikan  Khusus

Nomor       : 005/115/VIII/2010

Lampiran : 1 (satu) bendel

Perihal       : Lomba Pekan Olahraga dan Seni bagi Siswa Pendidikan Khusus

Dengan hormat kami beri tahukan bahwa guna mengembangkan potensi dan memberi kesempatan berkompetisi bagi siswa, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah melalui Balai Pengembangan Pendidikan Khusus akan mengadakan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Siswa Berkebutuhan Khusus Tahun 2010. Kegiatan diselenggarakan pada tanggal 27 s.d. 29 September 2010 di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang dan Graha Wiyata Patemon Gunungpati Sermarang.

Berkaitan hal tersebut di atas, mohon bantuan Saudara mengirimkan peserta kegiatan (siswa dan pendamping) dengan ketentuan sebagai berikut :

1.  Setiap kontingen merupakan perwakilan dari wilayah eks karesidenan,

2.  Mata lomba dan jenis ketunaan peserta terdiri dari :

No. Cabang/nomor Ketunaan
1 Dwilomba (lari 200 m dan 400 m), perorangan putra B
2 Dwilomba (lari 200 m dan 400 m), perorangan putri B
3 Dwilomba (lompat jauh dan lompat tinggi), perorangan putra B
4 Dwilomba (lompat jauh dan lompat tinggi), perorangan putri B
5 Tenis Meja tunggal putra B
6 Tenis Meja tunggal putri B
7 Bulu Tangkis tunggal putra B
8 Bulu Tangkis tunggal putri B
9 Seni Tari (kelompok 4 orang) B,C,D,Autis
10 Seni Musik (kelompok 4 orang) A,C,D,Autis
  1. Syarat peserta :
    1. Siswa :

1)     Siswa SDLB/SMPLB/SMALB pada tahun pelajaran 2010/1011;

2)     Usia setinggi-tingginya 22 tahun

b.  Pendamping :

1)     Guru SDLB/SMPLB/SMALB;

2)     Usia setingi-tingginya 55 tahun;

  1. Jumlah peserta setiap mata lomba untuk setiap kontingen sesuai daftar terlampir;
  2. Salah seorang pendamping (guru) agar ditunjuk sebagai ketua kontingen;
  3. Untuk penentuan peserta dan pengiriman kontingen agar dikoordinasikan oleh :
    1. Dinas Pendidikan Kota Semarang untuk wilayah eks Karesidenan Semarang;
    2. Dinas Pendidikan Kab. Pati untuk wilayah eks Karesidenan Pati;
    3. Dinas Pendidikan Kota Magelang untuk wilayah eks Karesidenan Kedu;
    4. Dinas Dikpora Kota Surakarta untuk wilayah eks Karesidenan Surakarta;
    5. Dinas Pendidikan Kab. Banyumas untuk wilayah eks Karesidenan Banyumas;
    6. Dinas Pendidikan Pemuda & Olahraga Kap. Pemalang untuk wilayah eks Karesidenan Pekalongan;
  4. Untuk penentuan personil peserta lomba, Saudara dapat berkoordinasi dengan Ketua Badan Koordinasi Pendidikan Luar Biasa (Bakor PLB) eks karesidenan;
  5. Kelengkapan yang harus diserahkan peserta kepada panitia :
    1. Surat tugas dari dinas pendidikan kabupaten/kota;
    2. Fotokopi raport tahun pelajaran 2009/2010 yang telah disahkan oleh kepala sekolah;
    3. Pas foto berwarna ukuran 3 cm x 4 cm sebanyak 3 lembar;
  6. Perlengkapan yang harus dibawa oleh peserta :
    1. Perlengkapan lomba sesuai mata lomba yang akan diikuti (yang tidak disediakan oleh panitiia);
    2. Pakaian  dan sepatu olahraga;
    3. Obat-obatan pribadi (bila memerlukan);

10. Selama kegiatan, peserta berhak mendapatkan :

  1. Akomodasi dan konsumsi;
  2. Uang transpor dari kabupaten/kota asal ke Semarang (PP);
  3. Piagam penghargaan;
  4. Medali dan uang pembinaan bagi juara I s.d. juara harapan III untuk setiap mata lomba;

11. Peserta harus sudah berada di tempat kegiatan pada :

Hari, tanggal        : Senin, 27 September 2010

Pukul                   : 12.00 WIB

Tempat                : Graha Wiyata Patemon

Jl. Koesbiyono Tjondrowibowo

Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang

(± 1 KM sebelah selatan kampus UNNES, Sekaran)

12. Daftar nama peserta (sesuai format sebagaimana tersebut pada nomor 13.c ) mohon sudah dapat kami terima paling lambat hari Kamis, tanggal 22 September 2010, pukul 12.00 WIB melalui faksimili nomor (024) 76744369  atau e-mail bp_diksus@yahoo.com

13. Bersama ini kami lampirkan :

  1. Daftar Jumlah Peserta dan Mata Lomba untuk setiap kontingen;
  2. Petunjuk Teknis Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Siswa Berkebutuhan Khusus Tahun 2010;
  3. Format Daftar Nama Peserta dan Mata Lomba.

Atas perhatian Saudara, kami sampaikan terima kasih.

a.n. KEPALA DINAS PENDIDIKAN PROV. JAWA TENGAH

Kepala BP-Diksus

ttd

Dr. SUSNADATI, M.Pd

Pembina Tk. I

NIP. 19560912 19703 2 004

Tembusan :

  1. Kepala Dinas Pendidikan Prov. Jateng;
  2. Pengawas PLB Jawa Tengah
  3. Ketua Bakor PLB Provinsi Jawa Tengah;
  4. Ketua Bakor PLB eks Karesidenan se Jawa Tengah

Lampiran 1

Petunjuk Teknis Porseni

Lampiran 2

Form Data Peserta Porseni

Peta ke Graha Wiyata Patemon

DETEKSI DINI AUTIS PADA ANAK

25 Agu

Oleh: TIM TERAPIS BP-DIKSUS

PENDAHULUAN

Di bidang psikiatri anak, angka kelainan jiwa pada anak diperkirakan mencapai 5 – 10% dari populasi anak. Kelaianan di bidang perkembangan anak dibagi dalam 2 kelompok besar yaitu kelinan spesifik serta kelainan yang menyeluruh/pervasiv. Sekalipun kelainan ini lebih kecil dibandingkan kelainan psikiatri lainnya, penderita memerlukan perhatian seumur hidupnya atau setidak-tidaknya sepanjang masa-masa perkembangan.

Kelainan autistik atau autisma pada anak adalah salah satu bentuk penyakit yang tergolong dalam gangguan pervasif. Angka kejadian autisma tampaknya meningkat pesat dalambeberapa tahun terahkir ini. Peningkatan ini terutama karena meningkatnya penyampaian informasi yang disampaikan berbagai media cetak maupun elektronik terutama internet. Sehingga baik kalangan medis maupun awam mengetahui perkembangan tehnolgi kesehatan yang berkaitan dengan hal tersebut. Sehingga masalah penyimpangan perilaku pada anak khususnya autisma ini menjadi persoalan yang aktual dan menarik yang ingin diketahui oleh masyarakat baik dari kalangan akademisi maupun masyarakat umumnya.

Amatlah penting untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit ini sejak dini karena penaganan yang lebih cepat akan memberikan hasil yang lebih baik. Beberapa pakar kesehatanpun meyakini bahwa merupakan hal yang utama bahwa semakin besar kemungkinan kemajuan dan perbaikan apabila kelainan pada anak ditemukan pada usia yang semakin muda.

I. APAKAH AUTISM ITU ?

Autism adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Kata autisma berasal dari bahasa Yunani “auto” berarti sendiri yang ditujukanpada seseorang yang menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri”. Pada umumnya penderita autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya). Pemakaian istilah autisma kepada penderita diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penderita yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh.

ANGKA KEJADIAN

Autism dapat terjadipada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik.

Jumlah anak yang terkena autism makin bertambah. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia.Di Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 60.000 – 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autisma meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autisma. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 – 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.

Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belunm diketahui berapa persisnya jumlah penderita namun diperkirakanjumlah anak austima dapat mencapai 150 -–200 ribu orang.

Penelitian Deb & Prasad, 1994 di Skotlandia menemukan bah wa dikalangan anak-anak dengan gangguan belahjar pre­valensi autisma mencapai 14,3% dan di anatara usia sekolah prevalensinya 9 per 10.000. Penderita di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan dan angka kejadian dari tahun ke tahun cenderung terus meningkat.

II. PENYEBAB AUTISME

Penyebab autisme belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autisme disebabkan karena terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa.

Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autisme.

Walaupun paparan logam berat (air raksa) terjadi pada setiap anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autism. Hal ini mungkin berkaitan dengan teori genetik, salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Beberapa penelitian anak autism tampaknya didapatkan ditemukan adanya gangguan netabolisme metalotionin.

Metalotionon adalah meruypakan sistem yang utama yang dimiliki oleh tubuh dalam mendetoksifikasi air raksa, timbal dan logam berat lainnya. Setiap logam berat memiliki afinitas yang berbeda terhada metalotionin. Berdasarkan afinitas tersebut air raksa memiliki afinitas yang paling kuar dengan terhadam metalotianin dibandingkan logam berat lainnya sepertoi tembaga, perak atau zinc.

Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilaporkan para ahli menunjukkan bahwa gangguan metalotianin disebabkan oleh beberapa hal di antaranya adalah :

-   Defisiensi Zinc

-   Jumlah logam berat yang berlebihan

-   Defisiensi sistein

-   Malfungsi regulasi element Logam

- Kelainan genetik, antara lain pada gen pembentuk netalotianin

Perdebatan yang terjadi akhir akhir ini berkisar pada kemungkinan penyebab autisme yang disebabkan oleh vaksinasi anak. Peneliti dari Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari Amerika mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme.

Banyak penelitian lainnya yang dilakukan dengan populasi yang lebih besar dan luas memastikan bahwa imunisasi MMR tidak menyebabkan Autism, Beberapa orang tua anak penyandang autisme tidak puas dengan bantahan tersebut. Bahkan Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autisme disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi.

Penelitian dalam jumlah besar dan luas tentunya lebih bisa dipercaya dibandingkan laporan beberapa kasus yang jumlahnya relatif tidak bermakna secara umum. Namun penelitian secara khusus pada penderita autism, memang menunjukkan hubungan tersebut. Memang kontroversi itu terus berlanjut terus, namun kita bisa mengambil hikmah dan jalan yang terbaik anak kita harus imunisasi MMR atau tidak ?. Untuk meyakinkan hak tersebut mungkin kita bisa berpedoman pada penelitian yang lebih dipercaya validitasnya secara populasi lebih banyak dan luas yaitu Autism tidak berhubungan dengan MMR. Tetapi juga mungkin kita harus lebih waspada bila anak kita sudah mulai tampak ditemukan penyimpangan perkembangan atau perilaku sejak dini memang sebaiknya untuk mendapatkan imunisasi MMR harus berkonsulasi dahulu dengan dokter tumbuh kembang anak. Artinya MMR tidak berhubungan dengan Autism memang bila anak kita tidak berbakat autism. Namun bila anak kita sudah mempunyai ditemukan bakat kelainan Autism sejak dini mungkin bisa saja menunda dahulu imunisasi MMR sebelum dipastikan diagnosis Autism, meskipun sebenarnya pemicu atau faktor yang memperberat Autism bukan hanya MMR.

Banyak pula ahli melakukan penelitian dan menyatakan bahwa bibit autisme telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan bahkan sebelum vaksinasi dilakukan. Kelainan ini dikonfirmasikan dalam hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autisme. Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika bahwa korelasi antara autisme dan cacat lahir yang disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autisme bagian otak yang mengendalikan pusat memory dan emosi menjadi lebih kecil dari pada anak normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan atau pada saat kelahiran bayi.

Karin Nelson, ahli neorology Amerika mengadakan menyelidiki terhadap protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang kecil tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein tinggi yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein otak tinggi ini berkembang menjadi autisme dan keterbelakangan mental. Nelson menyimpulkan autisme terjadi sebelum kelahiran bayi.

Saat ini, para pakar kesehatan di negara besar semakin menaruh perhatian terhadap kelainan autism pada anak. Sehingga penelitian terhadap autism semakin pesat dan berkembang. Sebelumnya, kelainan autisme hanya dianggap sebagai akibat dari perlakuan orang tua yang otoriter terhadap anaknya. Kemajuan teknologi memungkinkan untuk melakukan penelitian mengenai penyebab autisme secara genetik, neuroimunologi dan metabolik. Pada bulan Mei 2000 para peneliti di Amerika menemukan adanya tumpukan protein didalam otak bayi yang baru lahir yang kemudian bayi tersebut berkembang menjadi anak autisme. Temuan ini mungkin dapat menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama autisme sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya.

TANDA DAN GEJALA AUTISME

Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal

• Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan.

• Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat.

• Kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain (“bahasa planet”)

• Tidak mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai.

• Ekolalia (meniru atau membeo), menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu artinya.

• Bicaranya monoton seperti robot

• Bicara tidak digunakan untuk komunikasi

• Mimik datar

Gangguan dalam bidang interaksi sosial

• Menolak atau menghindar untuk bertatap muka

• Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli

• Merasa tidak senang atau menolak dipeluk

• Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan tangan orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknya

• Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain

• Saat bermain bila didekati malah menjauh

• Bila menginginkan sesuatu ia menarik tangan orang lain dan mengharapkan tangan tersebut melakukan sesuatu untuknya.

Gangguan dalam bermain

• Bermain sangat monoton dan aneh misalnya menderetkan sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada mainan mobil dan mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama.

• Ada kelekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi.

• Bila senang satu mainan tidak mau mainan lainnya.

• Tidak menyukai boneka, tetapi lebih menyukai benda yang kurang menarik seperti botol, gelang karet, baterai atau benda lainnya

• Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura.

• Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak.

• Perilaku yang ritualistik sering terjadi sulit mengubah rutinitas sehari hari, misalnya bila bermain harus melakukan urut-urutan tertentu, bila bepergian harus melalui rute yang sama.

Gangguan perilaku

• Sering dianggap sebagai anak yang senang kerapian harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya

• Anak dapat terlihat hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru pertama kali ia datang, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari, berlari-lari tak tentu arah.

•  Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti diri sendiri seperti memukul kepala atau membenturkan kepala di dinding

• Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam), duduk diam bengong dengan tatap mata kosong. Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri.

• Gangguan kognitif tidur, gangguan makan dan gangguan perilaku lainnya.

Gangguan perasaan dan emosi

• Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab nyata

• Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan

• Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum)bila keinginannya tidak didapatkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak.

• Tidak dapat berbagi perasaan (empati) dengan anak lain

Gangguan dalam persepsi sensoris

•  Sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat.

• Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja

• Bila mendengar suara keras, menutup telinga

• Menangis setiap kali dicuci rambutnya

• Meraskan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu

• Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan.

DIAGNOSIS AUTISM

Menegakkan diagnosis autism memang tidaklah mudah karena membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autisme. Diagnosa yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati perlilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autism yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.

Karena karakteristik dari penyandang autisme ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autisme.

Dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam men-diagnosa autisme. Kadang kadang dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit.

Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara sekilas, penyandang autis dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut diatas dapat timbul secara bersamaan.

Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autisme dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan terapi yang tepat.

DIAGNOSIS AUTISM BERDASARKAN DSM IV

(Diagnostic and Statistic manual)

Untuk menetapkan diagnosis gangguan autism para klinisi sering menggunakan pedoman DSM IV.Gangguan Autism didiagnosis berdasarkan DSM-IV:

A. Harus ada sedikitnya 6 gejala dari(1), (2), and (3), dengan minimla harus ada 2 gejala dari (1), dan satu gejala masing-masing dari (2) dan (3):

(1) GANGGUAN KUALITATIF DALAM INTERAKSI SOSIAL, minimal harus ada dua manifestasi:

• Hendaya dalam perilaku non verbal seperti : kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, sikap tubuh atau gerak tubuh dalam interaksi sosial

• Kegagalan dalam berhubungan dengan anak sebaya sesuai dengan perkembangannya

• Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain

• Kurangnya hubungan sosial dan emosional

(2) GANGGUAN KUALITATIF DALAM BIDANG KOMUNIKASI, minimal 1 gejala di bawah ini :

• Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berlkembang (tak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara).

• Bila bisa bicara tidak dipakai untuk komunikasi

• Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.

• Cara bermain kurang variasi, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru.

(3) SUATU POLA YANG DIPERTAHANKAN DAN DIULANG-ULANG DALAM PERILAKU, MINAT DAN KEGIATAN. Sedikitnya harus ada 1 gejala di bawah ini :

•    Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan.

•    Terpaku pada satu kegiatan ritual atau rutin yang tidak ada gunanya

• Terdapat gerakan-gerakan aneh yang khas berulang-ulang.

•    Seringkali terpukau pada bagian-bagian benda

B. Sebelum usia 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang :

1. Interaksi sosial

2. Bicara dan berbahasa

3. Cara bermain yang kurang variasi

C. Gangguan tersebut bukan disebabkan karena sindrom Rett atau Gangguan disintegratif masa kanak-kanak (Childhood Disintegrative Disorder).

DIAGNOSIS BANDING AUTISM

Referensi baku yang dipakai untuk menjelaskan jenis autisme adalah standar Amerika DSM revisi keempat (Diagnostic and Statistical Manual) yang memuat kriteria yang harus dipenuhi dalam melakukan diagnosa autisme. Diagnosa ini hanya dapat dilakukan oleh tim dokter atau praktisi ahli bersadarkan pengamatan seksama terhadap perilaku anak autisme dan disertai konsultasi dengan orang tua anak.

Pada kenyataanya, sangat sulit untuk membagi kategory atau jenis autisme mengingat tjarang ditemukan antara satu dan lain penyandang autisme yang mempunyai gejala yang sama. Setiap penyandang autisme mempunyai ke-’khas’-annya sendiri sendiri. Dengan kata lain ada 1001 jenis atau mungkin satu juta satu jenis autisme di dunia ini yang tidak dapat diperinci satu persatu. Istilah yang lazim dipakai saat ini oleh para ahli adalah ‘kelainan spektrum autisme’ atau ASD (Autism Spectrum Disorder).

Anak yang telah didiagnosa dan masuk dalam kategori PDD mempunyai persamaan dalam hal kekurang mampuan bersosialisasi dan berkomunikasi akan tetapi tingkat kelainan-nya (spektrum-nya) berbeda satu dengan lainnya.

Terdapat begitu banyaknya jenis atau ciri penyandang autisme, sehingga lebih berupa rangkaian dari kelabu muda sekali hingga kelabu tua sekali (sangat bervariasi). Penggunaan istilah autisme berat/parah dan autisme ringan dapat menyesatkan karena jika dikatakan berat atau parah orang tua dapat merasa frustasi dan berhenti berusaha karena merasa tidak ada gunanya lagi.

Sebaliknya jika dikatakan ringan atau tidak parah maka orang tua merasa senang dan juga dapat berhenti berusaha karena merasa anaknya akan sembuh sendiri. Pada kenyataannya, baik ringan ataupun berat, tanpa penanganan terpadu dan intensif, penyandang autisme sulit mandiri. Meskipun sejauh nini belum ada pembagian tegas untuk menunjukkan derajat autism, apakah ringan, sedang atau berat.

Agar dapat membantu melihat beberapa kelompok besar spektrum autisme yang ada, dapat dilihat dari kategori utama dibawah ini:

Gangguan Perkembangan Pervasif (Pervasive Developmental Disorders /PDD) terdiri dari beberapa jenis PPD di antaranya adalah :

Autistic

Aspergers

Retts

Childhood Disintegrative Disorder (CDD)

Gangguan pervasive opada masa kanak-kanak (Pervasive Developmental Disorder) or Not Otherwise Specified (PDD:NOS)

Beberapa perbedaan antara Autis, Aspergers, Retts, Gangguan disintegratif padamasa kanak (Childhood Disintegrative Disorder /CDD), Pervasive Developmental Disorder or Not Otherwise Specified (PDD:NOS adalah :

AUTISM

Ketidakmampuan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi. Sampai dengan umur 3 tahun mempunyai daya imajinasi yang tinggi dalam bermain dan mempunyai perilaku, minat dan aktifitas yang unik (aneh).

Dikategorikan sebagai ketidak mampuan dalam bersosialisasi dan mempunyai minat dan aktifitas yang terbatas tanpa adanya keterlambatan dalam kemampuan berbicara. Kecerdasannya berada pada tingkat normal atau diatas normal. Terdapat 6 GEJALA UTAMA AUTISM1. Kegagalan untuk mengembangkan khidupan sosial normal2. Gangguan bicara, Bahasa dan komunikasi3. Abnormal Relationships to Objects and Events4. Respon tidak normal terhadap stimulasi sensoris5. Perbedaan perkembangan dan keterlambatan perkembangan6. Dimulai selama usia bayi atau anak

SINDROM RETT’S

Sindrom Rett adalah penyakit degeneratif, ketidakmampuan yang semakin hari semakin parah (progresif). Hanya menimpa anak perempuan. Pertumbuhan normal lalu diikuti dengan kehilangan keahlian yang sebelumnya telah dikuasai dengan baik- khususnya kehilangan kemampuan menggunakan tangan yang kemudian berganti menjadi pergerakan tangan yang berulang ulang (seperti mencuci tangan) mulai pada umur 1 hingga 4 tahun.

Gejala dapat dimulai usia 6 bulan hingga usia 18 bulan

* Pertumbuhan kepala lambat

* Kehilangan kemampuan menggunakan gerakan tangan

* Berkembang seperti gejala khas autism

GANGGUAN DISINTEGRATIF PADA KANAK-KANAK

(Childhood Disintegrative Disorder /CDD)

Pertumbuhan yang normal pada usia 1 sampai 2 tahun kemudian kehilangan kemampuan yang sebelumnya telah dikuasai dengan baik.

Anak berkembang normal dalam usia 2 tahun pertama(seperti : kemampuan kominukasi, sosial, bermain dan perilaku), namun secara bermakna kemampuan itu terganggu sebelum usis 10 tahun, yang tergangggu diantaranya adalah kemampuan :

Bahasa

Kemampuan sosial

Kemampuan buang air besar dan buang air kecil di toilet

Bermain

Kemampuan motorik

Gejala tambahan, menunjukkan fungus abnormal sedikitnya dua hal dari :

Interaksi sosial

KomunikasiCommunication

Pola perilaku terbatas : perhatian dan aktifitas

SINDROM ASPERGER’S

Asperger’s Syndrome gejala khas yang timbul adalah gangguan intteraksi sosial ditambah gejala keterbatasan dan pengulangan perilaku, ketertarikan dan aktifitasis. Mempunyai gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, sedikitnya dua gejala dari :

Ditandai dengan gangguan penggunaan beberapa komunikasi non verbal (mata, pandangan, ekspresi wajah, sikap bada, gerak isyarat)

Tidak bisa bermain dengan anak sebaya

Gangguan dalam menikmati minat atau keberhasilan

kurangnya hubungan sosial dan emosional

GANGGUAN PERKEMBANGAN PERVASIF (Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified / PDD-NOS)

Biasa disebut Autis yang tidak umum dimana diagnosis PDD-NOS dapat dilakukan jika anak tidak memenuhi kriteria diagnosis yang ada (DSM-IV) akan tetapi terdapat ketidakmampuan pada beberapa perilakunya.

MULTISYSTEM DEVELOPMENTAL DISORDERS (MSDD)

Beberapa ahli perkembangan anak menggunakan klarifikasi yang disebut sebagai Zero to three’s Diagnostic Classification of Mental Health and Development Disorders of Infacy and early Childhood. DC-0-3 menggunakan konsep bahwa proses diagnosis adalah proses berkelanjutan dan terus menerus, sehingga dokter yang merawat dalam pertambahan usia dapat mendalami tanda, gejala dan diagnosis pada anak. Diagnosis tidak dapat ditegakkan secara cepat, tapi harus melalui pengamatan yang cermat dan berulang-ulang. Dalam penegakkan diagnosis harus berkerjasama dengan orangtua dengan mengamati perkembangan hubungan anak dengan orangtua dan lingkungannya.

Konsep DC 0-3 tersebut digunakan karena pengalaman kesulitan dalam mendiagnosis Autism di bawah 3 tahun, khususnya yang mempunyai gejala yang belum jelas. Faktor inilah yang menyulitkan apabila anak didiagnosis autism terlalu dini, padahal dalam perkembangannya mungkin saja gangguan perkembanagn tersebut ada kecenderungan membaik atau menghilang. Sehingga kalau anaknya didiagnosis Autism adalah sesuatu yang berat bagi orang tua, seolah-olah sudah tidak harapan bagi si anak.

MSDD adalah diagnosis gangguan perkembangan dalam hal kesanggupannya berhubungan, berkomunikasi, bermain dan belajar. Gangguan MSDD tidak menetap seperti gangguan pada Autistis Spectrum Disorders, tetapi sangat mungkin untuk terjadi perubahan dan perbaikkan. Pengertian MSDD meliputi gangguan sensoris multipel dan interaksi sensori motor. Gejala MSDD meliputi :

• Gangguan dalam berhubungan sosial dan emosional dengan orang tua atau pengasuh.

• Gangguan dalam mempertahankan dan mengembangkan komunikai

• Gangguan dalam proses auditory

• Gangguan dalam proses berbagai sensori lain atau koordinasi motorik

PEMERIKSAAN YANG DILAKUKAN

Tidak ada satupun pemriksaan medis yang dapat memastikan suatu diagnosis Autism pada anak. Tetapi terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis yang dapat digunakan sebagai dasar intervensi dab strategi pengobatan.

PENDENGARAN: Bila terdapat gangguan pendengaran harus dilakukan beberapa pemeriksaan Audio gram and Typanogram.

ELEKTROENSEFALOGRAM (EEG): EEG untuk memeriksa gelombang otak yang mennujukkan gangguan kejang, diindikasikan pada kelainan tumor dan gangguan otak..

SKRENING METABOLIK: Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan darah dan urine untuk melihat metabolisme makanan di dalam tubuh dan pengaruhnya pada tumbuh kembang anak. Beberapa spectrum autism dapat disembuhkan dengan diet khusus.

MAGNETIC RESONANCE IMAGING (MRI) DAN COMPUTER ASSITED AXIAL TOMOGRAPHY (CAT SCAN): MRI atau CAT Scans sangat menolong untuk mendiagnosis kelainan struktur otak, karena dapat melihat struktur otak secara lebih detail

PEMERIKSAAN GENETIK: Pemeriksaan darah untuk melihat kelainan genetik, yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan. Beberapa penelitian menunjukkkan bahwa penderita autism telah dapat ditemukan pola DNA dalam tubuhnya.

OBSERVASI SECARA LANGSUNG

OBSERVASI LANGSUNG, INTERAKSI DAN PENILAIAN WAWANCARA :

Infoemasi tentang emosi anak, sosial, komunikasi, kemampuan kognitif Information about a child’s emotional, social, communication, and cognitive abilities is gathered through child directed interactions, observations in various situations, and interviews of parents and care givers. Parents and family members should be actively involved throughout these assessments. What actually occurs during a specific assessment depends on what information parents and evaluators want to know.

PENILAIAN FUNGSIONAL:

Tujuan untuk mengetahui bagaimana bisa terjadi perubahan perilaku (seperti perilaku motorik yang aneh). Berdasarkan pertimbangan itu bahwa perubahan perilakuj adalah suatu cara untuk berkomunikasi dengan lingkungan. Penilaian fungsional termasuk wawancara, observasi langsung dan interaksi secara langsung untuk mengetahui apakah anak menderita autism atau dikaitkan ketidakmampuan dalam komunikasi melalui perilaku anak.Penilaian secara fungsional ini akan membantu dalam perencanaan intervensi atau terapi okupasi yang harus diberikan.

PENILAIAN DASAR BERMAIN :

Melibatkan orang tua, guru, pengasuh atau anggota keluarga lainnya untuk mengamati situasi permainan yang dapat memberikan informasi hubungan sosial, eomosional, kognitif dan perkembangan komunikasi. Dengan mengetahui kebiasaan belajar anak dan pola interaksi melalui penilaian permainan, pengobatan secara individual dapat direncanakan.

VI. DETEKSI DINI AUTISM

Meskipun sulit namun tanda dan gejala autism sebenarnya sudah bisa diamati sejak dini bahkan sejak sebelum usia 6 bulan.

1. DETEKSI DINI SEJAK DALAM KANDUNGAN

Sampai sejauh ini dengan kemajuan tehnologi kesehatan di dunia masih juga belum mampu mendeteksi resiko autism sejak dalam kandungan. Terdapat beberapa pemeriksaan biomolekular pada janin bayi untuk mendeteksi autism sejak dini, namun pemeriksaan ini masih dalam batas kebutuhan untuk penelitian.

2. DETEKSI DINI SEJAK LAHIR HINGGA USIA 5 TAHUN

Autisma agak sulit di diagnosis pada usia bayi. Tetapi amatlah penting untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit ini sejak dini karena penanganan yang lebih cepat akan memberikan hasil yang lebih baik. Beberapa pakar kesehatanpun meyakini bahwa merupahan hal yang utama bahwa semakin besar kemungkinan kemajuan dan perbaikan apabila kelainan pada anak ditemukan pada usia yang semakin muda

Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak menurut usia :

USIA 0 – 6 BULAN

• Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)

• Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik

• Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi

• Tidak “babbling”

• Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu

• Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan

• Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal

USIA 6 – 12 BULAN

• Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)

• Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik

• Gerakan tangan dan kaki berlebihan

• Sulit bila digendong

• Tidak “babbling”

• Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan

• Tidak ditemukan senyum sosial

• Tidak ada kontak mata

• Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal

USIA 6 – 12 BULAN

Kaku bila digendong

Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da)

Tidak mengeluarkan kata

Tidak tertarik pada boneka

Memperhatikan tangannya sendiri

Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus

Mungkin tidak dapat menerima makanan cair

USIA 2 – 3 TAHUN

Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain

Melihat orang sebagai “benda”

Kontak mata terbatas

Tertarik pada benda tertentu

Kaku bila digendong

USIA 4 – 5 TAHUN

Sering didapatkan ekolalia (membeo)

Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar)

Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah

Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala)

Temperamen tantrum atau agresif

GURU PEMBIMBING KHUSUS

4 Agu

PELATIHAN TEKNIS GURU PEMBIMBING KHUSUS

WAKTU & TEMPAT

- Tanggal 2 – 4 Agustus 2010                   di BP-DIKSUS

- Tanggal 4 – 6 Agustus 2010                   di Graha Wiyata Patemon

TUJUAN

1. Guru dapat melayani ABK agar potensi yang dimiliki berkembang secara optimal.

2. Menciptakan iklim belajar yang kondusif sehingga anak-anak meraa nyaman mengikuti pembelajaran di kelas/sekolah.

3. Menyusun dan melaksanakan assessmen pada semua anak untuk mengetahui kemampuan dan kebutuhannya.

4. Menyusun Program Pengajaran Individual (PPI) bersama-sama guru umum.

5. Guru perlu mengenal kemampuan awal dan karakteristik setiap anak secara mendalam, baik dari segi kemampuan maupun ketidakmampuan dalam menerima pelajaran.

6. Guru perlu mengembangkan srategi pembelajaran yang mampu mengoptimalkan interaksi antara guru dengan siswa

Materi dapat didownload di sini:

BINA DIRI

PERSIAPAN BACA TULIS BRAILLE

pel. GPK BKPBI

Karakteristik ABK

BINTEK ARTIKULASI

BINA DIRI

ORIENTASI DAN MOBILITAS

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.